puisi seorang demonstran

Aku tak tahu mengapa aku merasa agak melankoli malam ini
Aku melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas Jakarta dengan warna warna baru
Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan

semuanya terasa mesra, tapi kosong
Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas
dan bayang-bayang yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan

Prasaan sayang yang amat kuat menguasaiku
Aku ingin memberikan suatu rasa cinta pada manusia 

---

Akhirnya semuanya akan tiba pada suatu hari yang biasa 
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku

Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri 
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta


Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah wajah yang tak kita kenal berbicara dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu

---

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza

tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biavra

tapi aku ingin mati disisimu manisku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Marisin sayangku,
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku

Tegaklah ke langit luas, atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil, 
Kembalilah dari tiada ke tiada

Berbahagialah dalam ketiadaanmu


-Soe Hok Gie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar